DASACITA wisata petualangan resmi diluncurkan oleh IATTA (Indonesia Adventure Travel Trade Association) dalam acara penutupan IATTACON 2019 yang menjadi bagian dari rangkaian acara IIOUTFEST 2019. Kesepakatan Dasacita tersebut ditandatangani oleh Cahyo Alkantana, ketua IATTA yang disaksikan oleh beberapa pelaku wisata petualangan yang hadir, di antaranya Gendon Subandono, penggiat industri paralayang, Buche, penggiat industri arung jeram, Rubini Kertapati, penggiat panjat tebing, Bima Saskuandra, penggiat pemandu wisata gunung, dll.

Menurut Ronie Ibrahim, founder IIOUTFEST, dasacita tersebut menjadi komitmen bagi para pelaku usaha wisata petualangan Indonesia.

Kesepuluh bulir-bulir dasacita tersebut, antara lain mengembangkan industri wisata petualangan Indonesia secara berkelanjutan, menciptakan suasana wisata petualangan Indonesia yang aman dan nyaman, menciptakan iklim persaingan usaha dan tata kelola industri wisata petualangan Indonesia yang sehat dan terbebas dari praktek KKN, mengutamakan kesehatan dan keselamatan jiwa para pelaku industri serta peserta petualangan Indonesia.

Selanjutnya mengembangkan atraksi wisata petualangan Indonesia berbasis kebudayaan, meningkatkan daya saing destinasi wisata petualangan Indonesia, mendorong tumbuh kembangnya sektor usaha mikro, kecil dan, menengah di bidang industri wisata petualangan Indonesia, mengembangkan kapasitas SDM di bidang industri wisata petualangan Indonesia, membangun infrastruktur wisata petualangan Indonesia yang memadai dan tepat guna, dan mewujudkan Indonesia sebagai surga wisata petualangan dunia.

Cahyo Alkantana menyampaikan bahwa acara IATTACON 2019 yang pertama kali diadakan tersebut ini juga menjadi ajang untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam industri wisata petualangan Indonesia. Dalam kesempatan tersebut President Nepal Associatiaon of Your and Travel Agents (NATTA), CN Pandey, berbagi pengalamannya mengenai pariwisata petuangan di Nepal yang telah dimulai sejak 20 tahun silam.

Pandey mengatakan bahwa pariwisata Indonesia dan Nepal memiliki perbedaan jenis wisata yang dipunyai, yakni Indonesia yang banyak laut sedangkan Nepal yang banyak wisata di pulau/ daratan. Namun keduanya sama memiliki wilayah pegunungan untuk wisata petualangan. Ia menambahkan pula bahwa diharapkan industri pariwisata Indonesia dan Nepal dapat bekerja sama untuk saling mendatangkan turis di masing-masing negara. “Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar kami dari target 2 juta wisatawan petualangan mancanegara kami,” ujarnya.

Pada acara IATTACON 2019 tersebut dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Kawasan Pariwisata, Anang Sutono, Deputi Gubernur Bidang Industri, Perdagangan, dan Transportasi, Sutanto Suhodo, Ketua IATTA, Cahyo Alkantana dan Ketua Tim Percepatan Wisata Petulangan Indonesia, Amalia Yunita. (CH)