MENGAPA WISATA HALAL?

Mengapa Wisata Halal Part 2

Dampak Covid 19, Wisata Halal

            Perkembangan wisata halal, tidak terlepas dari keadaan ekonomi islam global, tentu berdasarkan situasi tahun 2019 sebelum covid 19. Pendorong utamanya (demand drivers-nya) adalah perkembangan pesat generasi muda muslim yang sering disebut generasi (m), adanya peningkatan praktek hidup atau gaya hidup halal (Halal Lifestyle), ditambah fasilitas yang sangat memudahkan dengan digital connectivity.

            Sektor wisata mendapatkan dampak yang sangat berat akibat dari covid 19 tidak terkecuali juga dengan wisata halal. Menurut UNWTO akan ada penurunan wisatawan global dan pengurangan pendapatan pariwisata global serta yang juga berat dampaknya adalah pengurangan jumlah tenaga kerja yang cukup besar yang mempengaruhi pendapatan jumlah orang yang melakukan aktivitas wisata di dunia.

            DinarStandard melaporkan bahwa di sektor wisatawan muslim juga akan terjadi penurunan yang cukup drastis. Diperkirakan pertumbuhan pariwisata akan terjadi minus sekitar 7-8% dan mulai tumbuh kembali pada tahun 2023 untuk mencapai kondisi pada tahun 2019.

            Sejalan dengan itu dari laporan konsultan internasional McKinsey mengatakan bahwa wisman akan kembali lagi ke level 2019, diperkirakan pada tahun 2024 (“recovery tahun 2019 levels maybe as late as 2024”). Oleh karena dunia masih menghadapi soal pandemic covid 19, termasuk situasi di Indonesia yang juga masih terus berjuang. Paris, London dan juga Seoul sering melakukan jam malam, untuk mencegah penularan sebelum vaksin benar-benar efektif untuk pencegahan. Tidak ada pilihan lain menurut McKinsey, kecuali menggerakan wisatawan domestik (wisatawan nusantara) yang menjadi panutan menggerakan ekonomi lokal dan nasional, “domestic tourist will likely recover faster”.

            Hal ini sangat berkesesuaian dengan report yang diterbitkan oleh UNWTO (United Nation World Tourism Organization),  WTTC (World Travel and Tourism Council) dan juga World Tourism Forum Institute (WTFI) yang menyimpulkan wisatawan domestik didahulukan disamping soal pandemic covid itu sendiri yang belum tuntas, sehingga adanya travel restriction, travel bubble dan juga pengurangan pendapatan akibat pandemic covid bagi para calon pelancong dunia. Bila wisatawan domestik akan menjadi prime over kepariwisataan Indonesia mestinya secara teoritis berdasarkan jumlah penduduk, wisatawan domestik sebagian besar adalah wisatawan muslim yang membutuhkan pelayanan tambahan.

Oleh karena itu pemerintah pusat harus bersinergi dengan pemerintah daerah kabupaten dan kota dalam program recovery, karena daerah lah yang  mempunyai destinasi. Semakin besar peran pemerintah daerah Kabupaten dan Kota nya maka semakin berkembangnya kepariwisataan di daerah itu.  Untuk mengakselerasi dan tumbuhnya kembali kepariwisataan daerah diperlukan investasi baru (new investment) terutama untuk penyediaan IT, promosi produk wisata baru seperti MICE, health tourism, medical tourism, spa tourism, wellness tourism (yoga), spiritual tourism, outdoor sport dan adventure; penyiapan tenaga SDM yang semakin siap baik sisi pemerintah maupun di pelaku bisnis pariwisata.

Dukungan dari pemerintah tentu sangat vital mengingat sektor pariwisata mengalami dampak yang sangat besar. Hal ini  tentunya menjadi PR untuk Menteri baru Sandiaga Salahuddin Uno, disamping pengembangan destinasi super prioritas.

Alangkah indahnya bila sebagai konsumen wisatawan muslim memperoleh pelayanan tambahan seperti restoran halal, tempat beribadah, hotel dan resort yang muslim friendly seperti yang dilakukan oleh Korea, Jepang dan Thailand. Sehingga wisata halal Indonesia akan semakin dikembangkan baik untuk wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi bagi ekonomi Indonesia. Insya Allah.

Get in Touch