MENGAPA WISATA HALAL?

Mengapa Wisata Halal (Part 1)

            Kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang baru, Sandiaga Uno, Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, berpesan agar melanjutkan dan memperkuat pembangunan 5 kawasan Pariwisata super prioritas, antara lain Kawasan Mandalika, Labuan Bajo, Brorobudur, Danau Toba dan Manado-Likupang-Bitung. Diharapkan 5 kawasan pariwisata akan menjadi lokomotif pariwisata Indonesia kedepan.

           Selain itu secara khusus Pak Wakil Presiden berpesan kepada Menteri Parekraf agar menjadikan Pariwisata Halal (halal tourism) sebagai bagian penting dari kepariwisataan nasional. Pesan Pak Wakil Presiden tentu sangatlah beralasan, berwisata saat ini tidak hanya bagian dari kebutuhan seorang muslim, tetapi sudah menjadi bagian dari (lifestyle) gaya hidup muslim global.

         Di tahun 2019, menurut The State Global Islamic Economy Report 2020/21 ada paling tidak sekitar 200,3 juta perjalanan muslim keluar negeri dengan pengeluaran sebesar lebih dari 194 milyar dollar, dalam report tersebut dilaporkan juga bahwa Indonesia menempati peringkat ke 5 terbesar outbond (wisatawan ke luar negeri) muslim travel countries setelah Arab Saudi, UAE, Qatar dan Kuwait. Sedangkan untuk top destination Indonesia termasuk no 6 dibawah UAE, Turki, Thailand dan Tunisia, Malaysia masih di rangking teratas. Dengan daya tarik Indonesia baik alam maupun budaya yang terkait dengan dunia islam mestinya Indonesia mempunyai kemampuan untuk menjadi top destination halal tourism di dunia. Dari jumlah kunjungan wisatawan muslim Indonesia hanya dikunjungi 3,4 juta wisatawan sedangkan Malaysia mencapai 6,4 juta wisatawan dan Thailand 5,2 juta di tahun 2018.

            Seperti tergambarkan dalam jumlah kunjungan muslim global ke Indonesia, relatif masih kecil dibandingkan dengan negara-negara tetangga di ASEAN. Negara-negara yang muslimnya relatif kecil seperti Thailand, Korea, Jepang apalagi Malaysia dan Singapura. Negara-negara Asean ini sangat serius menyiapkan pelayanan untuk menjaring wisatawan muslim dari berbagai penjuru dunia agar berkunjung ke negaranya. Hal yang relatif mudah dilakukan seperti tersedianya restoran halal, cafe, sarana ibadah di Korea untuk mempermudah pelayanan juga sudah tersedia guide book untuk pelancong muslim online maupun offline.

            Di kota Bangkok yang terkenal dengan dunia hiburannya tetap tumbuh restoran halal dan hotel halal yang tersedia seperti Al Meroz hotel Bintang 4 yang mempunyai brand “The Leading Halal Hotel”. Prinsip dalam islam bahwa hidup itu adalah pilihan, oleh karena itu Bangkok sebagai tempat tujuan wisata juga memberikan pilihan dan pelayanan kepada wisatawan muslim.

            Demikian juga Jepang selain menyediakan restoran halal dan fasilitas ibadah bagi umat islam di Airport, bahkan ada rest area yang menyediakan tempat ibadah serta makanan halal. Pemerintah Jepang juga sangat memperhatikan pelayanan bagi umat muslim, di acara event internasional Olympic Games, yang sedianya diselenggarakan pada tahun 2020 dan diundur menjadi tahun 2021, akan menyediakan makanan halal, fasilitas ibadah bagi atlet muslim, betapa hebatnya pemerintah Jepang.

           Lebih lengkap lagi pelayanan hotel-hotel di Turki, seperti di Antalya tidak hanya menyediakan makanan halal serta fasilitas ibadah tetapi juga tersedianya kolam renang dan pantai yang terpisah untuk perempuan dan laki-laki sebagai pelayanan yang eksklusif. Di Perancis dan Inggris ada hotel mahal yang menyediakan, makanan halal dan fasilitas lainnya by request untuk pelancong muslim tanpa merubah jenis fasilitas yang ada di hotel.

            Dapat disimpulkan bahwa wisata halal sama sekali tidak memiliki kaitan dengan agama, tetapi hanya menjadi layanan tambahan bagi para wisatawan muslim yang berlibur ke destinasi wisata, sehingga tidak merubah tatanan adat, nilai budaya apalagi agama di negara-negara tersebut.

 

Get in Touch