HARI mulai larut, ketika akhirnya tiba di Karang Penginyongan, penginapan yang berdiri di
tengah keindahan alam. Suguhan kopi dan singkong menemani obrolan. Kami beruntung
mendapat kesempatan mendengar lagu Banyumasan yang dinyanyikan langsung oleh Titut
Edi Purwanto, Operational Manager Karang Penginyongan yang dikenal juga sebagai
seorang seniman. Lagu berjudul Pacul Gowang menciptakan keakraban.


Sejak awal, Titut terlibat langsung dalam pengonsepan penginapan tersebut. Pembangunan,
pengembangan, dan nama-nama yang digunakan banyak yang didapat lewat mimpi dan
perenungan mendalam. Nama Karang Penginyongan memiliki arti pertemuan agung.
Karang berasal dari kata pekarangan, sedangkan penginyongan dari kata dasar inyong
yang artinya saya.


Karang penginyongan menawarkan tempat yang sejuk, rindang, dan sunyi, sehingga setiap
wisatawan dapat merasakan kedamaian. “Suasana damai di tempat ini mampu membawa
setiap orang untuk berefleksi dan akhirnya menemukan arti di dalam dirinya sendiri,” ujar
Titut.


Karang Panginyongan yang dikelilingi perumahan penduduk dan perkebunan, memiliki
beragam kegiatan. Pagi hari bisa mendaki Bukit Manglayang, menikmati matahari terbit,
keindahan Puthuk Asmara, menyaksikan petani bekerja di sawah dan kebun, atau
penduduk yang tengah membuat gula aren. Untuk rombongan, tersedia pula berbagai
pertunjukan seni tradisional.


Karang Penginyongan memang beda. Tidak salah jika Titut melemparkan perumpamaan
bahwa tamu-tamu yang telah singgah di Karang Penginyongan dan mampu menemukan surganya sendiri dalam diri masing-masing, layak mendapat gelar SAS, yakni Sarjana Alam
Semesta. Anda juga mau dapat gelar ini? (CH/D-1)