PELANGI CURUG SAWER

Curug Sawer

CURUG Sawer, salah satu air terjun yang wajib dikunjungi di Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango. Lokasinya sekitar 15 menit dari Glamping Situ Gunung atau sekitar 25 hingga 30
menit berjalan santai dari Suspension Bridge.
Dari jauh, gemuruh air terjun sudah bisa terdengar. Ade Bagja, Fungsional Pengendali
Ekosistem Hutan dan Humas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, menjelaskan bahwa
Curug Sawer merupakan air terjun dengan debit air terbesar di kawasan taman nasional. Saat
musim kemarau pun, debit air tetap deras. “Kecuali musim kemaraunya mencapai 7 bulan, debit
air akan terlihat berkurang,” katanya.
Curug Sawer memang memesona. Begitu mendekat kesejukan udara di sekitarnya langsung
terasa. Ada jembatan kecil yang bisa digunakan wisatawan untuk mendekati air terjun.
Sebagian jembatan kayu itu terlihat basah terkena cipratan air terjun.
Dari atas jembatan, bisa terlihat dengan jelas warna-warni pelangi di kaki air terjun. Terkadang
menghilang, seiring dengan iringan awan yang menutup matahari. Namun, begitu sinar
matahari memancar, warna-warni pelangi muncul kembali.
Jika ingin berbasah-basah, bisa mendekati kolam air terjun lewat jalur biasa. Namun, hati-hati
karena harus berjalan dan melompati bebatuan. Cara lain menikmati sejuknya air terjun adalah
bermain di aliran sungai. Jalannya landai dan sungainya tidak dalam. Airnya jernih, dengan arus
yang tak terlalu kencang.
Istirahat
Medan menuju Curug Sawer dengan menggunakan jalur Suspension Bridge tidak terlalu sulit.
Ada beberapa jalan yang sedikit mendaki, namun sudah dibuat lebih nyaman dengan dasar
batu, pilihan tangga atau jalan mendaki yang tanpa tangga di bagian tengah.
Selain itu, sebelum mencapai air terjun, wisatawan akan menjumpai deretan penjual suvenir
dan pendopo yang disediakan pengelola (pihak swasta yang mengelola Suspension Bridge)
untuk masyarakat yang ingin berjualan. Pengaturan itu membuat area Situ Gunung terlihat lebih
rapi dan bersih.
Masyarakat yang berjualan tidak dipungut biaya, hanya diminta untuk menjaga kebersihan dan
tidak berjualan di luar area yang ditetapkan. Wisatawan yang akan ke air terjun dipastikan akan
melintasi pendopo.Tempat itu menjadi shelter peristirahatan sekaligus untuk mengisi perut,
menyeruput kopi, teh, dan juga menikmati berbagai jenis makanan, mulai dari pisang goreng,
mi instan, bakso, hingga makanan tradisional seperti cilok. Psssttt … cilok di pendopo ini
sungguh enak.
Jalan Alternatif
Sesungguhnya, Curug Sawer memiliki dua jalur yang bisa ditempuh dan dipilih. Pertama
melalui Suspension Bridge dengan membayar tambahan Rp50.000 (termasuk welcome drink
dan melewati Suspension Bridge), kedua lewat jalur tradisional.
Pilihan kedua butuh waktu tempuh lebih lama dibandingkan dengan Jalur Suspension Bridge.
Medannya juga relatif lebih berat, menurun dan mendaki karena harus melintasi lembah. Dari
pintu masuk area Situ Gunung, butuh waktu paling cepat 1 jam perjalanan. Tapi jangan
khawatir, karena selama perjalanan bisa menjumpai penduduk yang menjajakan makanan dan
minuman.

Jalur ini biasanya disenangi para pecinta flora yang ingin melakukan pengamatan beragam
tumbuhan di lembah. Tidak mengherankan jika jalur tradisional lebih sering digunakan
rombongan pelajar dan mahasiswa terkait proses belajar mengajar. Selain itu, jalur ini juga
banyak dipilih para pecinta alam yang ingin ke air terjun atau berkemah di camping ground yang
dekat dengan Curug Sawer. (D-1)

Get in Touch