PESONA SUSPENSION BRIDGE

Foto: Christa

PERTENGAHAN tahun lalu, kehadiran Suspension Bridge membuat nama Situ Gunung jadi
buah bibir. Foto-foto cantik yang menggambarkan jembatan gantung terpanjang di Asia
Tenggara itu, banyak menghiasi media sosial.


Alhasil, dari hari ke hari pengunjung terus bertambah. Rata-rata datang berombongan dari
berbagai rentang usia, mulai dari anak-anak hingga di atas 60 tahun. Jika dirata-rata, dalam
satu hari bisa mencapai 300 hingga 500 orang. Akhir pekan sudah pasti membludak, hingga
bisa lebih dari seribu orang.


Jembatan sepanjang 243 meter itu, sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu 5 menit dengan
kecepatan berjalan kaki normal. Namun, rata-rata pengunjung menghabiskan waktu antara 10
hingga 15 menit. Selfie, memotret jembatan, dan landscape yang terpampang sudah pasti jadi
kegiatan yang tak mungkin ditinggalkan.


Banyak pengunjung yang berdiri lama di tengah jembatan menikmati pemandangan dan tinggi
pepohonan. Pagi dan sore hari jadi favorit. Pada saat itu banyak owa dan lutung (sejenis kera)
unjuk diri, melompat di antara pepohonan. Jika beruntung, wisatawan bisa menyaksikan kepak
sayap burung elang.


Di malam hari, Suspension Bridge tak kalah mempesona. Dari ketinggian restoran yang ada di
areal Welcome Drink, deretan lampu memanjang memancarkan sinar terang, membelah
kegelapan malam.

Pengaman
Melintas Suspension Bridge memang menyenangkan. Jembatan yang dibangun
menghubungkan dua sisi lembah itu, berdiri di ketinggian 161 meter. Ketika pengunjung
berjalan, goyangan lembut bisa dirasakan.
Faktor keamanan menurut Deni, service area Suspension Bridge benar-benar diperhitungkan.
Pengecekan rutin dilakukan setiap hari, dan pengecekan besar satu bulan sekali. Meski
demikian, untuk mengantisipasi faktor alam seperti angin kencang mau pun gempa bumi yang
bisa menyebabkan goyangan kencang, pihak pengelola sudah memiliki prosedur pengamanan.
Begitu masuk ke area Suspension Bridge, ada ruang tunggu besar dan nyaman. Ruang tunggu
ini diperlukan karena demi kenyamanan, pengunjung yang melintas di jembatan gantung
dibatasi 85 orang. Ada monitor yang menunjukan kontrol berapa orang yang masuk dan sudah
keluar dari jembatan.


Sambil menunggu, petugas akan memberi penjelasan bagaimana keamanan dilakukan saat
ada hal yang tidak diinginkan. Jika pengunjung tak mengantre, maka penjelasan dilakukan
ketika pemasangan sabuk pengaman. Sabuk itu dikenakan dengan kaitan (carabiner). Petugas
menjelaskan, jika ada perintah untuk mengaitkan carabiner ke besi-besi di sisi kiri dan kanan
jembatan, maka harus segera dilakukan. “Petugas akan segera melakukan evakuasi jika
memang diperlukan,” papar Deni.


Berjalan Kaki
Jalan menuju Suspension Bridge dari pintu gerbang sudah tertata rapi dengan dasar bebatuan.
Jalannya relatif datar dengan sedikit tanjakan. Percaya atau tidak, petugas mencatat, ada
pengunjung berusia 85 tahun yang sanggup berjalan hingga air terjun (Curug Sawer).
Tidak perlu tergesa-gesa, jangan pula khawatir karena banyak tempat untuk beristirahat dan
tersedia toilet umum yang bersih. Perhentian pertama adalah areal Welcome Drik, dapat
dicapai sekitar 10 menit berjalan santai dari pintu gerbang.


Di tempat itu, wisatawan bisa menikmati free teh dan kopi panas, berikut makanan kecil seperti
singkong dan pisang rebus. Pada akhir pekan, panggung yang ada di areal Welcome Drink diisi
dengan pertunjukan rakyat dari masyarakat setempat.


Perhentian kedua bisa dilakukan di ruang tunggu terbuka sebelum melintasi jembatan gantung.
Berikutnya di Glamping Situ Gunung, dan selanjutnya ada pendopo terbuka yang dipenuhi
kuliner rakyat di dekat Curug Sawer. Berani menerima tantangan? (D-1)

Get in Touch